Music Phobia

Cast : *sementara* Yunho, Jaejoong, Junsu

Lenght : chapter *atau mungkin 2shoot*

Genre : YAOI *always*, GaJe *always juga*

Mianhae, gak bisa bikin summary 🙂 *Huuuu!!!*

Happy Read^^

Namja itu menutup buku hariannya. Kemudian benda kotak itu ia letakkan di samping kirinya, diatas hamparan rumput yang sedikit menguning. Ia menekuk lututnya ke dalam,mendekat ke dada. Dipeluknya kedua lututnya itu. Matanya tertutup. seolah benar-benar menghayati hembusan-hembusan angin yang menerpa wajahnya. Poni rambutnya bergerak-gerak pelan. Suasana disini benar-benar sunyi. Dan ia suka itu. Tak ada suara yang mengusik telinganya. Bibirnya pun membentuk sebaris senyuman.
“Jaejoongie! Cepat pulaang! Sudah mau hujaan!”,sebuah teriakan dari Eomma-nya sukses membuat sepasang mata doe itu terbuka kembali. Ia menoleh ke belakang.
“Ne,Ummaa!”,sahutnya. Kemudian ia berdiri. Tak lupa dibawanya buku harian berwarna merah tadi. Dengan sedikit berlari kecil, namja itu menyusul Eomma-nya. Ke rumah mereka.

.

“Jaejoongie,jagi, Eomma mau ke pasar dulu,ne? jaga dirimu baik-baik di rumah. Hanya sebentar kok!”, pesan Eomma-nya. Namja bernama Jaejoong Kim itu hanya mengangguk patuh.
“Aku heran,kenapa Eomma betah sekali disana? Tempat itu sangat mengerikan!”,ujar Jaejoong pada Eomma-nya. Membuat sang Eomma tertawa kecil.
“Disana menyenangkan,Jaejoongie. Lagipula Eomma,kan, sangat suka belanja,”jawab Eomma-nya sembari tersenyum.
“Ne,ne.. sudah,Eomma cepat berangkat sana! Aku kan sudah lapar!”
“Yaa,… Eomma malah diusir… Ya sudah,Eomma berangkat dulu! Annyeong!”.
Sepeninggal Eomma-nya, Jaejoong kembali mengambil buku hariannya,yang tadi ia sembunyikan di bawah bantal.
Ia mulai menuliskan isi hatinya. Sebenarnya isinya tak berbeda dari lembar-lembar sebelumnya. Semua bertema sama : Aku Suka Sunyi.
Hampir tak pernah terdengar suara gaduh dari rumah keluarga Kim ini. Itu karena anak semata wayangnya –Kim Jaejoong- tidak menyukai terlalu banyak suara. Maka dari itu, tadi ia menyebut pasar dengan Tempat yang Mengerikan. Dan satu lagi : Musik! Jaejoong memiliki satu penyakit aneh. Sangat aneh! Bisa dibilang nama penyakit itu adalah ‘Music Phobia’. Bila mendengar suara musik, ia pasti akan ketakutan. Yang ada dipikirannya hanyalah rasa takut. Ketakutan karena ditinggalkan oleh seseorang yang berharga baginya, ketakutan karena seolah melihat monster yang tengah siap memangsanya, dan ketakutan yang lain. Itu pula sebabnya Ny.Kim memilih membangun rumah di pedesaan. Tanpa ada tetangga di kanan-kiri rumah mereka. Jarak untuk membeli sandang pangan saja berjarak ±5 Km. Ny.Kim hanya tinggal berdua dengan anaknya. Suaminya telah pergi menuju tempat yang lebih tenang di atas sana. Jaejoong sendiri sebelumnya telah mencoba ke sekolah biasa. Sebisa mungkin ia menyembunyikan penyakitnya itu. Namun seberapa dalam ia menyembunyikannya, pasti ketahuan juga. Teman-temannya akhirnya mengolok-oloknya. Tak jarang mereka sengaja menyetel musik keras-keras, membuat Jaejoong mau tak mau menangis di kelas. Akhirnya Ny.Kim memutuskan untuk memanggil guru privat untuk Jaejoong. Istilah kerennya Home Schooling. Sekaligus pindah ke tempat yang kiranya membuat Jaejoong merasa lebih nyaman. Walau ujung-ujungnya membuat mereka seolah terisolasi dari masyarakat luar. Kini Jaejoong sendiri telah berada di tingkat 3 SMA. Sebentar lagi ia akan menjalani Ujian kelulusan layaknya murid-murid lainnya. Baiklah,mari kita kembali ke tokoh utama kita. Oh,sepertinya ia telah selesai menulis diary-nya! Tiba-tiba terdengar suara mobil dari luar. Dan satu lagi, suara itu. suara musik yang disetel keras-keras. Musik yang diketahui merupakan lagu dari boyband yang mendapat julukan ‘Dewa-dewa dari Timur’. Lagu itu berjudul ‘TRIANGLE’! *temen2 Cassie pasti tau lagunya kyak gimana*
Sontak Jaejoong terkejut. Ia merapatkan kedua lututnya ke dada. Kedua kupingnya ia tutup erat-erat dengan telapak tangannya. Bibir kissable nya terus-menerus menggumamkan kata ‘Eomma’. Tak terasa satu tetes air mata mengalir di pipinya.
“Eomma,Joongie takut. Eomma cepat pulang. Eomma jangan pergi,”
Ia begitu kalut sehingga tak sadar seseorang masuk ke kamarnya.
“Aigoo! Joongie hyung  kenapa?”,cepat-cepat namja itu memeluk hyung sepupunya itu.
“Su-ie ya,Aku takut. Suara itu-hiks- suara itu mengerikan-hiks-..”,tutur Jaejoong sembari memeluk adik sepupunya –Kim Junsu-.
“Ah! ne! aku lupa! Joongie hyung disini sebentar,ne? aku akan matikan suara mengerikan itu dulu,”
“ANDWAE! GAJIMA!”,Jaejoong menarik tangan Junsu yang hampir pergi.
Junsu menghela nafas pelan.
“Joongie hyung tenang saja. Aku akan cepat kembali. Arraso?”
Pelan,Jaejoong mulai melepaskan cengkeraman tangannya. Junsu pun keluar dari kamar bernuansa hitam putih itu. Ia keluar menemui temannya yang tengah menunggu di mobil.
“Hyuung~ matikan musik itu sekarang juga!”,seru Junsu.
“Mwo?! Kau bilang apa?”,rupanya namja itu tidak mendengar suara Junsu.
“MATIKAN MUSIKNYAA!!”
“Nde?”
“Aish!”,karena kesal,Junsu langsung saja menekan tombol off di music player mobil tersebut.
Junsu menatap tajam pada temannya itu. Tanpa berkata apa-apa ia kembali ke kamar Jaejoong.
“Hyung,gwechanayo?”
“N-ne, nan gwechana…”
“Mianhae,hyung. Tadi itu suara musik temanku,”tutur Junsu penuh penyesalan.
“Temanmu?”,Jaejoong memiringnkan sedikit kepalanya.
“Ne! Kau mau berkenalan dengannya?”,tanya Junsu riang.
“Tumben sekali kau bawa teman. Yeoja chingu-mu,ne?”
“Aniyo! Dia namja!”
“Ooh, jadi dia namja chingu-mu?”
“Aish,,,! Bukan begituuu…. dia benar-benar TE.MAN.KU!”
“Hehehe… ne,ne, aku menyerah…”
Junsu ikut tersenyum melihat Jaejoong tertawa kecil.
“Kalau begitu,aku panggil dia masuk dulu,ne,hyung!”
“Eum…”,Jaejoong mengangguk kecil tanda setuju.
Jaejoong segera pergi ke kamar mandinya untuk mencuci mukanya. Benar saja,wajahnya nampak kacau sehabis menangis tadi. Ia memandangi wajahnya sendiri di cermin. Ia lupa kalau sebenarnya ia memiliki wajah yang begitu sempurna. Tampan? ya! Cantik? ya! ah! jangan lupakan kulit wajahnya yang putih mulus itu! alami! mata doe nya yang nampak besar. bibir cherry-nya yang terkesan minta ‘dilahap’. Ya,sempurna. hanya saja satu. Penyakit itu.. Jaejoong sedikit sedih ketika mengingat ia memiliki penyakit –yang menurutnya- terkutuk itu.

MEANWHILE…

“Ayo masuk!”,ucap Junsu dari ambang pintu. Namja di dalam mobil BMW hitam itu kemudian turun menyusul Junsu.
“Kenapa sepi sekali? aneh..”,tuturnya.
“Yeah~ memang. Justru kalau gaduh,malah aneh! sudaah…ayo cepat masuk!”,Junsu menarik tangan temannya itu ke dalam. Rumah itu sederhana, tidak terlalu besar,namun juga tidak terlalu kecil. Sebagian besar dinidingnya dicat putih bersih. Rumah itu memiliki kesan minimalis yang menonjol.
“Kau masuk saja duluan! Kamarnya ada diujung kanan itu! di pintu-nya ada gambar gajah warnanya biru. Aku akan mengambil oleh-oleh yang masih di mobil sebentar,”kemudian Junsu kembali ke mobil. Namja itu mengayunkan kakinya ke ruangan yang ditunjuk Junsu tadi. Ada gambar kartun gajah berwarna biru di pintunya. Ia mengetuk pintu itu.
“Ne! masuk saja!”,seru suara dari dalam. Ia pun membuka pintu itu ragu-ragu. Junsu bilang kakak sepupunya itu sangat cantik. Ia mulai membayangkan seorang di balik pintu ini adalah yeoja dengan rambut panjangnya yang terurai dan mengenakan dress pendek warna pink muda. Ia melangkah masuk ke kamar itu. Kosong?
Ia berkeliling sebentar. Ada beberapa boneka gajah yang imut-imut di kamar itu. Ah,pasti dia juga imut sekali,pikirnya. Matanya menangkap sebuah buku masak di atas meja kecil sebelah tempat tidur. Dan dia juga pandai memasak,tebaknya lagi. Ia berjalan-jalan lagi. Kali ini ia mendekat memperhatikan kombinasi warna hitam putih sebagai walpaper dinding kamar itu sambil berjalan. Namun tiba-tiba… DUAAKK!!
Ia merasakan pening yang sangat hebat di keningnya. Membuatnya terhuyung dan lalu terduduk.
Ah,kasian sekali dirimu… Baru saja keningmu itu dicium ‘lembut’ oleh daun pintu dari kayu jati asli.
“Hwaa!! Mianhae!!”,pekik orang yang baru saja keluar dari kamar mandi itu dengan panik.
“Aaah…”,ia meringis pelan ketika jidatnya terasa berdenyut-denyut.
Namja tadi memapahnya ke kasur.
“Gwechanayo?”,tanyanya khawatir.
Masih terdengar ringisan-ringisan kecil.
“Tunggu sebentar,”ucap namja tadi lalu keluar dari kamarnya.
Sesaat kemudian ia kembali lagi dengan membawa baskom berisi air dingin serta sebuah handuk kecil. Dengan cekatan ia mengompres dahi namja itu.
BRAAKK!! kemudian terdengar juga suara CKLIK! CKLIK!
Namja itu,ah,Jaejoong maksudnya, menoleh ke arah belakangnya.
“Junsu-ie! Apa yang kau lakukan?!”
“Benar,kan,dugaanku…! Kalian sangat serasi!! Aaah! lihatlah foto-foto ini!”,pekik Junsu bak YunJae shipper sambil melihat foto-foto yang baru saja ia abadikan.
“Yaa! Kim Junsu!!”,kali ini dari namja yang jidatnya baru dicium daun pintu yang berseru.
“Yunho hyung,apakah kau tak tau apa arti indah? Aah~ jinjhayo… ini begitu indah~”
Ya,namja itu bernama Yunho. Jung Yunho. Namja kelahiran 6 Februari 1986.
“Kau gila,Kim Junsu!”,Yunho bangkit hendak membuat pelajaran pada Junsu. Namun keningnya kembali terasa berdeyut.
“Kau itu sedang sakit! jadi tak usah banyak polah dulu!”,ujar Jaejoong agak –kubilang ‘agak’- galak.
“Aku akan menaruh kue-kue ini di piring dulu!”,Junsu menutup pintu,tapi kemudian membukanya lagi,”mungkin agak lama. Sampai jumpa!”. Pintu itu ditutup kembali.
“Kau disini dulu saja. Aku akan membantu Junsu menyiapkan makanan,”ucap Jaejoong sembari membuka pintu. Namun nihil. Pintu itu tak berhasil dibuka.
Junsu menguncinya,pikir Jaejoong. Ia kembali lagi. Yunho masih saja memgangi handuk di keningnya.
“Appoyo?”
“Menurutmu?”
Jaejoong hanya diam. Tentu saja sakit! tak diragukan lagi. Sesaat mereka dilanda kekeringan *PLAAK* keheningan maksudnya. Tak sengaja pandangan Yunho menangkap selembar foto yang menyembul dari bawah bantal Jaejoong. Ia meraih foto itu. Lalu memandangnya. Foto seorang gadis kecil dengan rambutnya yang dikepang dua, dikucir dengan pita biru. Sementara Jaejoong masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Merutuki betapa bodoh dirinya *sabar ya, udah takdir itu* #dibakarJae
“Foto siapa ini?”,tanya Yunho pada Jaejoong. Jaejoong sedikit tersentak.
“Darimana kau dapat?”,Jaejoong merebut foto itu.
“Dibawah bantal. Sepertinya berharga sekali,ne?”
Jaejoong terdiam sebentar.
“Ne… sahabat masa kecilku. Bisa dibilang…cinta pertamaku,”
“Dimana dia sekarang?”
“Mollayo… Dia pindah ke Kanada. Kurasa dia pasti sudah memiliki namjachingu disana,”
“Ne… wajahnya memang cantik,”
Kembali keheningan melanda.
Jaejoong beranjak ke pintu kamarnya.
“Yaa! Kim Junsu! Buka pintunyaaa! Aku lapaarr!!”,teriaknya. Kemudian terdengar sahutan.
“Sebentaar! aku dan Kim ahjumma sedang masaak!”
Jaejoong mendengus kesal.
“Kau sakit apa?”,tanya Yunho. Membuat Jaejoong berbalik menatapnya.
“Aku tau dari Junsu”,ucap Yunho seolah mengerti akan tatapan Jaejoong.
“Penyakitku ini…aneh!”
“Sepertinya kau sehat-sehat saja,tuh! “,Ia berdiri mendekati Jaejoong. Menatapnya dari bawah ke atas. Lalu ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Jaejoong. Secara tak langsung membuat jantung Jaejoong berdebar kencang. Semburat pink dipipinya mulai terlihat. Jaejoong pun menundukkan kepalanya.
“Ah! aku tau! Lihat! wajahmu langsung memerah!”
“Aish! kau ini!,”Jaejoong melangkah melewati Yunho.
“Hahaha… Benarkan?”,Yunho mengikuti Jaejoong dari belakang. Memandang ke arah luar jendela berkayu putih.
“Sebenarnya nama penyakitku ini…”,Jaejoong ragu untuk mengucapkannya. Namun Yunho memandangnya dengan tatapan menuntut dan ingin tahu.
“Music Phobia,”
Yunho memandang Jaejoong tak percaya.
“Maksudmu kau phobia terhadap musik? hahaha… kau lucu sekali sih!”
“Aish! kalau tidak percaya ya sudah!”,ketus Jaejoong.
“Tapi bagaimana bisa? musik kan membawa kedamaian…”
“Damai katamu?! ‘Mengerikan’ adalah kata yang lebih tepat!”
Yunho terdiam sesaat. Kemudian ia menutup matanya pelan,membuat Jaejoong terheran. Tak disangka Yunho mulai menyanyikan sebuah lagu..
We tonayo marhejwoyo

Al su obnun nan ottogheyajyo

 

Jaejoong mulai gelisah. Tubuhnya membeku. Perlahan peluh-peluh kecil mulai menetes.

 

Sujubge nal jikhyojudon

Gudeui misomajo da kuthingayo

 

Ginagin shigando guderul wihan gojyo

Modun ge gudel wihan ne iyujyo

 

Himduro hagejyo dan haru han sungando

Naegeso nomudo morojin no

 

Jaejoong berjalan mundur. Ia menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan agar Yunho menghentikan nyanyiannya. Namun Yunho tak melakukannya. Jaejoong menutup telinganya rapat-rapat. Berusaha mencegah melodi-melodi itu masuk ke rongga telinganya.

 

I never let go I’m gonna make a way

Oh I find ever way  ne pumane yongwonhi

I never let go I’m gonna make a way

Oh I find ever way ne gyotheso yongwonhi

 

Yunho berjalan mendekati Jaejoong. Perlahan ia menurunkan tangan Jaejoong dari telinganya. Ia berusaha membuat namja cantik di depannya ini tenang. Walau jelas-jelas jejak air mata telah terbentuk di pipi indahnya.

 

To darun shigani wado gudemani jonbuin gol

 

Ojig nomani naui nomani nal sara ige he

 

I never let go I’m gonna make a way

Oh I find ever way ne pumane yongwonhi

I never let go I’m gonna make a way

Oh I find ever way ne gyotheso yongwonhi

 

Nol wiheso yongwonhi

 

I Never Let Go

Yunho tersenyum. Tangan Jaejoong –yang kini ada di genggamannya- yang tadinya dingin mulai menghangat.
“Lihat? tidak terjadi apapun,kan?”,ucap Yunho sembari tersenyum lembut.
“A-aku takut,Yun… Aku takut semua meninggalkanku…”,
“Tidak ada yang akan meninggalkanmu,Jae…”
“Ta-tapi…”
“Ssst… Walaupun semua orang meninggalkanmu, aku akan selalu disisimu,Jae…”
Kembali, jantung Jaejoong terasa berdegup kencang. Menurutnya ini seperti sebuah…pernyataan cinta?
CKLEEKK!

“Makanannya sudah si-“, *melongo*”,-ap…”.
“Ka-kalian…. HWAAAAA!!!”
Yunho dan Jaejoong hanya menatap bingung -cengo- pada Junsu. Sesaat kemudian mereka baru menyadari bahwa mereka masih saling berpegangan tangan.
“E-ee… i-ini…”,Yunho mencoba menjelaskan. Namun rasanya sulit.
“Tak apa! aku merestui hubungan kalian! Selamat,ya,Jae hyung,Yunho hyung!”.
“Yaa! Su-ie!!/Kim Junsuuuu!!”

Sedangkan Junsu tengah berlari riang menghampiri ahjumma-nya. Melaporkan bahwa sebentar lagi ia akan memiliki menantu yang tampan.

TBC~

Annyeong haseyooo!! JejeKyu balik lagi nambah utang FF! 😀 Mianhae,yang sequel ‘Not Just My Responsiblity’ belum saya lanjutin *bow*. Oiya,kira-kira beberapa hari kedepan mungkin JejeKyu akan hiatus dulu.. Tes Akhir Semester telah menanti di depan mata *merinding*… *kok malah curhat?* Yaudah deh,akhir kata : silahkan review,ne,chingu^^ silahkan kritik dan sarannya 😀
Gomawooo…!

Iklan

4 thoughts on “Music Phobia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s